Paris Van Java

Bandung Kota Kembang



Macet

“… dilingkung gunung… heurin ku tangtung…”  lagu ini sudah ada beberapa puluh tahun lalu.. rupanya merupakan ramalan penciptanya tentang kota Bandung.. yang sekarang jadi kenyataan. Semrawutnya kota ini semakin menjadi-jadi, karena pembangunan gedung baik apartemen, ruko, kompleks perumahan baru dll. tanpa dibarengi dengan daya dukung yang memadai, baik dari sisi infratruktur maupun sarana lainnya. Pedagang kaki lima yang sulit dikendalikan menambah carut marutnya kondisi. Jalan-jalan di kota Bandung baik panjang maupun lebarnya tidak bertambah, sementara jumlah kendaraan semakin banyak tidak terkendali. Bagi penduduk Bandung untuk jalan-jalan hari Sabtu atau Minggu jangan harap bisa nyaman, karena pada hari-hari tersebut  jumlah kendaraan semakin berlipat karena adanya wisatawan yang datang, baik dari Jakarta maupun kota lainnya. Ya memang Bandung terkenal dengan wisata Factory Outlet (FO) dan wisata kulinernya. So…. walaupun demikian Bandung tetap menjadi kota tujuan wisata dan menjadi kebanggaan warganya.. (uz/21/1/2012)

Tempat Wisata di Bandung

Wisata Kota Bandung sejak waktu tempuh Jakarta – bandung makin singkat, maka makin marak dan makin bergairah. Selain wisata belanja dengan Factory Outlet (FO) dan juga wisata kulinernya, Bandung terkenal dengan kesejukan dan keindahan alamnya. Eit tapi tunggu dulu, akibat dari semuanya kini Bandung yang dikenal sebagai Kota Paris nya Pulau Jawa atau Paris Van Java menjadi “acak adut” macet di mana-mana dan sampah yang tidak terkira banyaknya. Tapi inilah resiko yang harus ditanggung kalau kita ingin mengundang banyak wisatawan, tentunya pak Walikota dan aparatnya harus sigap dan tanggap menghadapi permasalahan ini. Jangan hanya memikirkan pendapatannya saja tapi juga harus mikirin dampaknya.. ok tidak broerrr…

Ok deh silahkan cermati tempat-tempat wisata yang ada di Kota Bandung dan jadikan prioritas utama untuk alternatif berlibur, tidak hanya buat warga Bandung tapi juga buat teman-teman dari luar Bandung….. selamat menikmati…. siapin aja dompetnya ya…

Tentang Bandung

Mengapa Bandung mendapat julukan Paris Van Java?

Menurut sejarah, kota Bandung dahulu kala terkenal dengan keindahan alam dan kesejukan udaranya (sekarang masih engga ya..). Suasana ini sangat disukai oleh orang2 kolonial, dan menurut mereka sama dengan kota Paris Perancis. Oleh karena itulah mereka memberi julukan Paris Van Java kepada Kota Bandung, yang artinya kota Paris dari Pulau Jawa.

Sejarah Kota Bandung

Era Pajajaran

Daerah yang sekarang dikenal dengan nama Bandung semula adalah ibukota Kerajaan Padjajaran (tahun 1488). Namun dari penemuan arkeologi kuno, kota tersebut adalah rumah bagi Australopithecus, Manusia Jawa. Mereka tinggal di pinggiran sungai Cikapundung sebelah Utara Bandung, dan di pesisir Danau Bandung. Gambar dan fragmen dari sisa tengkorak dan artifak Batu Api, dapat dilihat di Museum Geologi Jl. Diponegoro 57. Bandung.

Era Kolonial Belanda

Pada tahun 1786 mulailah dibangun jalan yang menghubungkan Jakarta, Bogor, Cianjur dan Bandung. Arus pendatang dari Eropa meningkat pada tahun 1809 saat Louis Napoleon, penguasa Belanda, memerintahkan Gubernur Jendral H.W. Daendels, untuk meningkatkan pertahanan di Jawa melawan Inggris. Untuk mengirimkan logistik mereka memerlukan jalan. Karena daerah pantai banyak terdapat rawa-rawa, akhirnya mereka membangun jalan ke arah selatan, melewati dataran tinggi Priangan.

The Groote Postweg (Jalur Pos Terhebat) dibangun 11 mil ke arah utara sampai ke jantung kota Bandung. Seperti biasa dengan kecekatannya, Daendels memerintahkan bahwa ibukota direlokasikan ke jalan tersebut. Bupati Wiranatakusumah II memilih sebuah tempat di bagian selatan jalan dari sisi sungai sebelah barat Cikapundung, dekat sepasang sumur keramat, Sumur Bandung, yang menurut rumor di lindungi oleh dewi Nyi Kentring Manik. Di daerah ini dia membangun dalemnya (istananya) dan alun-alun (pusat kota). Mengikuti orientasi tradisional, Mesjid Agung di tempatkan di sisi selatan, dan pasar tradisional di sisi timur. Rumahnya dan Pendopo (tempat pertemuan) terletak di bagian selatan menghadap gunung keramat Tangkuban Perahu. Saat itulah Kota Kembang lahir.

Sekitar pertengahan abad ke 19, Amerika Selatan cinchona (quinine), teh Assam, dan kopi diperkenalkan pada para dataran tinggi. Pada akhir abad itu Priangan terdaftar sebagai daerah pertanian paling menguntungkan se-propinsi. Pada tahun 1880 rel kereta api menghubungkan Jakarta dan Bandung telah selesai, dan menjanjikan perjalanan selama 2 1/2 jam dari keramaian ibukota Jakarta ke Bandung.

Dengan perubahan gaya hidup di Bandung, hotel, cafe, pertokoan muncul untuk melayani para petani yang entah datang dari dataran tinggi atau dari ibukota sampai daerah pesiar di Bandung. Kalangan masyarakat Concordia terbentuk dan dengan ruang tarinya yang besar merupakan magnet yang menarik orang untuk menghabiskan akhir pekan di kota. Hotel Preanger dan Savoy Homann adalah hotel-hotel pilihan. Braga di sepanjang trotoarnya terdapat toko-toko eksklusive Eropa.

Dengan adanya rel kereta api, cahaya perindustrian berkembang. Begitu panen tanaman mentah telah dapat langsung dikirimkan ke Jakarta untuk pengiriman lewat laut ke Eropa, sekarang proses utama dapat dilakukan secara efisien di Bandung. Orang Cina yang tidak pernah tinggal di Bandung berangsur-angsur datang untuk membantu menjalankan beberapa fasilitas dan mesin dan pelayanan bagi industri-industri baru. Pecinan muncul pada masa ini.

Pada masa awal abad ini, Pax Neerlandica di proklamasikan, menghasilkan perubahan dari pemerintahan militer menjadi sipil. Dengan ini muncul polis tentang desentralisasi untuk meringankan beban administrasi dari pemerintahan pusat. Dan demikianlah Bandung menjadi kotamadya pada tahun 1906.

Perubahan ini memberikan dampak besar pada kota. Balai kota dibangun di ujung utara Braga untuk mengakomodasi pemerintahan yang baru, terpisah dari sistem masyarakat yang asli. Ini kemudian di ikuti oleh pengembangan yang jauh lebih besar saat markas besar militer dipindahkan dari Batavia ke Bandung sekitar tahun 1920. Tempat yang dipilih adalah di bagian timur Balai Kota, dan yang didalamnya terdapat tempat tinggal bagi Panglima perang, kantor, barak, dan gudang persenjataan.

Pada awal abad ke-20 kebutuhan untuk mempunyai seorang profesional yang memiliki kemampuan khusus menggerakan pendirian sekolah tinggi teknik yang disponsori oleh warga kota Bandung. Pada saat yang sama rencana untuk memindahkan ibukota Hindia Belanda dari Batavia ke Bandung sudah matang, kota ini di perluas ke utara. Distrik ibukota ditempatkan di bagian timur laut, daerah yang tadinya adalah persawahan, dan sebuah jalan raya direncanakan untuk dibuat sepanjang 2.5 kilometer menghadap Gunung Tangkuban Perahu dengan Gedung Sate di ujung selatan, dan sebuah monumen kolosal disisi lainnya. Pada kedua sisi dari gedung yang megah ini akan terdapat permukiman bagi kantor-kantor milik permerintahan kolonial.

Sepanjang bantaran sungai Cikapundung diantara pemandangan alam terdapat Kampus Technische Hoogeschool, asrama dan bagian pengurus. Bangunan tua kampus ini dan pemandangannya mencerminkan arsiteknya yang genius Henri Maclain Pont. Di bagian barat daya disediakan untuk rumah sakit dan institute Pasteur, di lingkungan pabrik kina yang tua. Pembangunan ini direncanakan dengan sangat teliti mulai dari arsitekturnya dan perawatan secara detail. Tahun sebelumnya tidak lama sebelum pecahnya perang dunia ke 2 merupakan tahun keemasan bagi Bandung dan dikenang sebagai Bandung Tempoe Doeloe.

Tonggak-Era Kemerdekaan

Setelah Indonesia merdeka, Bandung menjadi ibukota provinsi Jawa Barat. Bandung merupakan tempat terjadinya konferensi Bandung pada tanggal 18 April – 24 April 1955 dengan tujuan untuk promosi ekonomi dan kerjasama budaya antara negara Afrika dan Asia, dan untuk melawan ancaman kolonialisme dan neokolonialisme oleh Amerika Serikat, Uni Soviet atau negara-negara imperialis lainnya.

Sumber : Wikipedia.org

Legenda Sangkuriang

Legenda Bandung di mulai dari sini…
(Menurut cerita rakyat Sunda)

Berasal dari hasrat, keinginan, cinta, dan kemarahan Sangkuriang, Meletusnya Gunung Tangkuban Parahu, hingga sekarang menjadi sebuah kota…

Ini adalah cerita pendeknya…

Ada sebuah kerajaan di Tanah Priangan. Hiduplah sebuah keluarga bahagia, sang ayah dalam wujud seekor anjing (bernama Tumang), seorang ibu (bernama Dayang Sumbi), dan seorang anak bernama Sangkuriang. Tumang adalah jelmaan dewa yang memiliki kekuatan sihir.

Suatu hari, Dayang Sumbi meminta anaknya untuk pergi berburu di hutan terdekat dan mencari hati rusa. Maka Sangkuriang pergi berburu dengan anjing kesayangannya, Tumang, untuk menyenangkan hati ibunya. Setelah berburu seharian penuh tanpa hasil apapun, Sangkuriang mulai putus asa dan khawatir. Tanpa pikir panjang, Sangkuriang mengambil panahnya dan memanah anjingnya. Kemudian dia mengambil hati atau daging anjingnya dan dibawa pulang.

Dia memberikan hati atau daging anjingnya tersebut kepada ibunya. Tidak lama kemudian Dayang Sumbi mengetahui bahwa Sangkuriang berbohong padanya. Dia mengetahui bahwa Sangkuriang telah membunuh Tumang. Maka, dia menjadi sangat marah dan memukul kepala Sangkuriang. Sangkuriang terluka dan memiliki sebuah tanda. Sangkuriang dibuang jauh dari rumah mereka.

Tahun-tahun berlalu, Sangkuriang telah berkelana ke banyak tempat dan pada suatu hari, dia sampai di sebuah desa yang dulu adalah rumahnya. Dia bertemu dengan seorang wanita cantik yang sebenarnya adalah ibunya dan jatuh cinta padanya.

Cinta mereka tumbuh dan pada suatu hari, saat mereka membicarakan rencana perkawinan mereka, Dayang Sumbi tiba-tiba menyadari bahwa ciri-ciri pada kepala Sangkuriang sama dengan ciri anak satu-satunya yang telah menghilang dua puluh tahun lalu. Bagaimana mungkin dia dapat menikahi anaknya sendiri? Tapi dia tidak mau mengecewakannya dengan membatalkan perkawinan tersebut. Jadi, meskipun dia setuju untuk menikahi Sangkuriang, ada syarat yang harus dipenuhi yaitu membuatkan sebuah danau dan perahu agar mereka dapat berlayar saat matahari terbit pada hari pernikahan mereka.

Sangkuriang menerima syarat tersebut dan membuat sebuah danau dengan membendung sungai citarum. Dengan waktu yang semakin singkat dan perahu yang hampir selesai, Dayang Sumbi menyadari bahwa Sangkuriang akan memenuhi syarat yang dia minta. Dengan kekuatan supernaturalnya, dia menerangi horison bagian timur dengan sinar. Tertipu oleh hal itu, ayam jantan berkokok dan petani bersiap untuk sebuah hari baru.

Dengan pekerjaan yang belum selesai, Sangkuriang menyadari bahwa harapannya telah sirna. Dengan marahnya, dia menendang kapal yang telah dia buat sendiri. Perahu tersebut jatuh dan terbalik, dengan demikian menjadi gunung TANGKUBAN PARAHU (dalam bahasa Sunda, TANGKUBAN berarti terbalik, dan PARAHU berarti perahu). Dengan hancurnya bendungan, air yang tertampung dalam danau mengering dan menjadi sebuah dataran yang luas sehingga sekarang menjadi sebuah kota yang disebut BANDUNG (dari kata BENDUNG, yang artinya Dam/bendungan/waduk).

Sumber : Wikipedia.org

  

eXTReMe Tracker